Selasa, 18 Januari 2011

Melongok Hari-hari Terakhir Eutik Suarta di Tangsel

Datang Dengan Kehangatan, Pergi Sebelum Merasa Puas

Senyum sumringah keluar begitu saja dari barisan gigi renggang Eutik Suarta. Seakan bebannya lepas kerena akan menanggalkan masa tugasnya sebagai Penjabat Walikota Tangsel tepat pukul 00.00 WIB semalam. Lantas, apakah Eutik sudah puas dengan hasil capainnya selama 6 bulan kontas memimpin  daerah bekas Kabupaten Tangerang itu?

oleh : dodol_kampret

Sambil duduk santai, Eutik mulai menuturkan beberapa hal yang dirasakannya selama menjabat jadi Walikota Tangsel. Meskipun hanya 6 bulan jadi orang paling penting di daerah paling muda di Banten tersebut, sudah cukup baginya mengalami hal-hal paling mengesankan.

“Sejak dilantik tanggal 18 Juli 2010 dan memulai tugas sehari setelahnya di Tangsel, saya langsung mendapatkan kesan tersendiri. Sambutan hangat warga Tangsel  bertepatan saya tiba di sini adalah hal paling dalam yang akan selalu saya ingat sampai nanti,” tutur kakek satu cucu ini memulai pembicaraanya dengan kami  di kantor Walikota Tangsel Kecamatan Pamulang yang akan ditinggalkannya, kemarin.

Pria dengan kacamata berfram warna keemasan itu pun langsung merasa diterima bak keluarga bagi warga Kota Tangsel. Terlebih, pada hari-hari selanjutnya, dia merasa langsung bisa klop dengan pemangku kepentingan lain yang akan bertugas bersamanya menyiapkan Kota Tangsel menjadi kota definitif. “Lucunya, saat datang ke DPRD yang saya anggap rekan kerja strategis langsung dibilang saya ini banyak  senyum. Hal itu juga yang lantas membuat saya begitu merasa diterima dan sulit dilupakan,” katanya.

Tapi, raut mukanya langsung  berubah saat bicara soal hasil kerja yang sudah dicapainya. Pria yang juga Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten itu pun lantas mengeluhkan soal beberapa hal yang belum dicapainya seakan merasa belum puas dan ingin program itu bisa dilanjutkan oleh penerusnya kelak.

Kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan juga infastruktur yang belum tuntas diselesaikannya selama ia memimpin jadi poin yang harus segera dientaskan di masa selanjutnya. Dia berpesan, siapapun yang menggantikan dirinya bisa lebih dekat dengan warga dan menganggap mereka keluarga, bahkan soal apa yang akan dimakan pun kalau bisa pemimpin tahu.

“Satu program saya yang ingin sekali direalisasikan oleh penerus saya nanti yakni program penanggulangan kemiskinan dengan cara subsidi silang dari yang kaya kepada yang miskin. Sebab, dengan jumlah orang kaya mencapai 55 persen akan sangat mudah menyelesaikan kemiskinan di kota ini yang hanya 6 persen jumlahnya,” jelas bapak dua putra ini.

Satu hal lagi yang masih membeban dipikirannya, soal mahalnya biaya pendidikan di Kota Tangsel. Dia bergharap, penjabat walikota yang baru nanti bisa mencabut Peraturan Walikota (Perwal) Nomor 03 Tahun 2009 yang buat masa Penjabat Walikota HM Shaleh tentang pungutan sukarela yang belum sempat dicabutnya. “Setelah saya pelajari, Perwal itu memang keliru. Saya berharap penjabat yang baru bisa mendiskusikan ini dengan dewan dan dinas pendidikan untuk kemudian dicarikan penggantinya berbentuk peraturan yang lebih tepat,” sarannya.

Terakhir, soal pemungutan suara ulang (PSU) yang akan digelar 27 Februari mendatang, Eutik juga berpesan agar penggantinya kelak bisa mensukseskannya dengan damai dan tertib. “Inti dari tugas penjabat walikota adalah mengantarkan pimpinan definitif di Kota Tangsel. Makanya, dalam menyukseskan hal itu, netralitas, keseriusan dan juga kesiapan harus jauh lebih matang,” pungkasnya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar