>> Orang Tua Minta Proses Hukum Dituntaskan
Tak ingin berimbas negatif kepada 400 anak muridnya, Kepala Sekolah SDN III Setu Kempung Sengkol Kelurahan Muncul Kecamatan Setu Asnawi meminta Dinas Pendidikan Kota Tangsel mengevaluasi ulang rencana mengirimkan Yayat Priyatna, guru yang diduga telah melakukan kasus pelecehan seksual kepada lima anak muridnya di SDN V Pondok Ranji Ciputat Timur ke sekolah yang dipimpinnya.
“Saya tidak pernah tahu kalau pemindahan Yayat Priyatna ke sekolah kami karena alasan dugaan pencabulan. Sebab, selama ini dinas hanya memberitahukan ada rolling tugas guru. Kalau kasusnya seperti itu, jelas kami minta pertimbangan lagi,” katanya saat dihubungi Satelit News, kemarin.
Dia menegaskan, pihaknya sama sekali tak ingin jika kasus pencabulan yang dilakukan Yayat kepada sejumlah murid di sekolah lamanya menimpa ratusan murid yang ia ajar. Hal itu, akan membuat efek negatif bagi sekolah maupun orang tua murid yang sudah menitipkan anaknya ke SDN III Setu. “Setelah tahu hal ini, saya akan memending (menahan, red) pelaksanaan SK (surat keputusan, red) tugas Yayat atau bahkan kami tolak,” tegasnya.
Kepala Bidang Kurikulum SDN itu Ujang Sofyan mengungkapkan, Yayat sudah mulai mengajar di sekolahnya sejak Jum’at (7/1) namun belum mendapatkan tugas mengajar tetap di kelas. Semenjak masuk mengajar, kata Ujang, baru sekali Yayat mengajar sebagai guru pengganti di kelas 5 SDN tersebut. “Kami pun belum tahu kasus yang dilakukan Yayat. Kalau tahu begini kami kira kami pun tak ingin kena imbasnya. Kasihan anak-anak,” jelasnya.
Marfuah, guru agama di SDN yang memiliki 6 urnagan kelas tersebut pun tidak mengharapkan kedatangan Yayat. Menurutnya, meskipun para guru bisa membantu mengawasi tingkah laku Yayat selama mengajar di sekolah yang mencanangkan program gratis biaya sekolah tersebut, pihaknya lebih mengutamakan keamanan belajar anak-anak. “Kami akan urung rempuk apa yang harus kami lakukan. Kami juga ingin menjaga rasa kepercayaan wali murid-murid kami,” harapnya.
Terpisah, tingkah laku Yayat di SDN Pondok Ranji pun telah membuat efek negatif bagi guru-guru di sekolah tempat Yayat mengajar sebelumnya. Bukan hanya itu, untuk menutupi aib yang dilakukan salah satu tenaga didiknya, sejumlah orang tua yang anaknya menjadi korban pelecehan Yayat pun terpaksa menelan perlakukan intimidasi dari pihak sekolah.
“Pihak sekolah melakukan intimidasi dan mengancam para orang tua korban untuk tutup mulut. Hal itu yang memuat kami gerah dan akan terus melakukan upaya hukum atas kelakuan tak seronok itu,” ujar Reiza Ali, pendamping korban pelecehan anak dari Koalisi Anti Kekerasan Anak Kota Tangsel, kemarin.
Dia juga menegaskan, bersama para orang tua siswa akan terus mendesak agar aparat penegak hukum agar segera menetapkan pelaku sebagai tersangka aksi kekersan dan pelecehan seksual anak. Hal itu perlu dilakukan agar tidak ada lagi kasus serupa dikemudian hari. “Kami sudah ke Mapolres Jakarta Selatan untuk mempertegas pengusutan kasus ini. Orang tua pun sekapat agar pelaku dipidana termasuk kepsek, dan juga kepala dinas untuk mencopot jabatannya,” teranganya melalui pesan tertulis, kemarin.
Sebelumnya, Yayat Priyatna guru kelas SDN V Pondok Ranji diduga melakukan pelecehan seksual kepada para anak muridnya masing-masing berinisial A, M, AR, D dan I yang saat ini duduk di kelas VI SDN V Pondok Ranji. Akibat perlakukan amoral itu, anak-anak yang menjadi korban pelecehan mengalami gangguan mental dan kelainan psikologis hebat.
“Anak saya A jadi beda dengan anak-anak lainnya. Kejadian malang menimpa anaknya terjadi ketika anaknya sedang bermain bola. Lantas Yayat memanggil anak saya keruangannya, didalam ia disuruh duduk dan burungnya diraba-raba, bahkan hubungannya berlanjut lebih jauh dan dalam,” tutur ibu yang enggan disebutkan namanya.
Atas perlakukan tak menyenangkan itu, sang ibu berharap agar kasus pelecehan itu bisa dituntaskan aparat kepolisian. “Saya tidak ingin anak saya jadi korban namun pelakunya tidak dihukum. Hukuman sosial dan pidana harus dikenakan pada pelaku itu. Dan jangans sampai terulang di tempat lain,” pungkas sang ibu. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar