Predikat Kota Tangsel sebagai “Kota Sampah” sudah tak terbantahkan lagi. Tiga kali pergantian pemimpin, keluhan warga, mogok massal sopir pengangut sampah, penahanan truk yang membuang sampah di daerah lain, hingga pertengkaran sesama pejabat di lingkungan dinas kebersihan menghiasai peristiwa sekitar sampah di sepanjang tahun 2010 ini. Apakah tahun depan peristiwa serupa masih akan terjadi..?
Sebuah Catatan Akhir Tahun : DODOL-KAMPRET
Di awal tahun 2010 lalu, Didi Supriyadi Widjaya masih sempat memimpin Dinas Kebersihan Pertamanan Dan Pemakaman (DKPP) Kota Tangsel. Pejabat dinas yang sudah memimpin sejak Kota Tangsel berdiri 2008 silam itu sempat menyetakan ketidaksanggupannya menangani sampah yang kian hari kian menumpuk di berbagai tempat.
Lalu, selang beberapa waktu kepemimpinannya, dia pun mulai kewalahan menangani sampah-sampah tersebut. Dalam pernyataannya dia mengungkapkan, andai saja Tangsel memiliki tempat pembungan sampah (TPS) sendiri, pasti saat masa kepemimpinannya masalah sampah sudah bisa diselesaikan.
Bahkan, sewaktu perbinangan dengan penulis, dia mengatakan, sebagian besar daerah Kota Tangsel mengalami kepusingan mengatasi sampah, apalagi Tangsel yang belum punya tempat pembuangan akhir. Ditambah lagi, personel dan juga sarana maupun prasarana yang sangat terbatas.
Fakta mengungkapkan, total sampah buangan masyarakat Tangsel di berbagai wilayah mencapai tak kurang dari 1.600 meter kubik per hari. Menurut Didi, dengan Jumlah tersebut idealnya sampah itu diangkut 30 truk. Namun, semasa jabatannya, pemerintah hanya memiliki 9 truk pengangkut sampah. “Mau gimana lagi, setiap hari diangkut pun tak akan terangkut dengan jumlah armada yang minim. Terlebih, kita tak memiliki tempat pembuangan sampah permanen. Bagaimana tidak pusing?,” ucapnya saat itu.
Beriring waktu, Didi pun diganti oleh Plt DKPP Kota Tangsel yang baru Ajat Sudrajat yang juga Aisten Daerah (Asda) II Bidang Ekonomi Pembangunan sekitar bulan Februari 2010. Pergantian tersebut sempat membawa angin segar karena selang beberapa waktu menjabat, Sudrajat langsung membuka celah kerjasama dengan investor lokal maupun investor asing untuk mengembangkan pengelolaan sampah di TPS Cipeucang.
Saat itu dia mengakui, pihaknya banyak mendapatkan proposal penanganan sampah dari swasta, perguruan tinggi hingga investor asing. Sebut saja, PT Bathara Sakti yang menawarkan sebuah teknologi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Sayang, rencana itu pun kandas dan lagi-lagi sampah tetap bertumpuk dari hari ke hari dimana kondisi itu menuai protes dari sejumlah warga yang tak puas dengan kinerja aparatur saat itu. Lagi-lagi, Sudrajat pun mengungkapkan kepusaingannya menangani sampah yang kemudian diganti dengan Plt lainnya Djoko Suryanto.
Ternyata, meskipun di awal kepemimpinan Djoko tersiar adanya upaya pembangunan Tempat Pengelolan Sampah Terpadu (TPST) di Cipeucang, status Tangsel sebagai “Kota Sampah” pun belum bisa diselesaikan oleh pejabat yang terakhir ini. Sebab, rencana pengelolaan sampah yang coba digarapnya bersama investor asing asal Singapura SET Internasional Asia PTE, LTD hanya tinggal wacana saja. Sekelumit kendalah dialami Djoko untuk merealisasikan kerjasama dengan investor asing tersebut. Walhasil, hingga pengujung tahun 2010 ini sampah masih belum ada tempat pembuangan pasti dan belum ada pengelolaan yang tepat.
Gagalnya membangun TPST ternyata berimbas pada masalah lain. Sampah yang terus menumpuk membuat desakan masayarakat yang terus meminta untuk segera diselesikan kian deras. Upaya pun dilakukan Djoko yakni menjalin kerjasama dengan daerah lain untuk membuang sampah Tangsel ke tempat mereka. Sesekali ke Bantar Gebang Kota Bekasi, sesekali ke Rawa Kucing Kota Tangerang dan sesekali ke Gunung Sindur Kabupaten Bogor. Sementara sampah yang kian menumpuk pun dapat tertangani.
Sayanganya, kerjasama itu tak berlangsung lama. Sejumlah daerah mulai keberatan Tangsel membuang sampah di daerah mereka. Dimana hal itu menambah masalah baru di kalangan sopir pengangkut sampah. Yang mana, mereka mendapatkan banyak penolakan pembuangan sampah yang akhirnya membuat para sopir ini enggan lagi menarik sampah dan melakukan pemogokan massal.
Ulah sopir-sopir yang harusnya bisa ditangani Plt Kepala DKPP Kota Tangsel pun berimbas langsung kepada masyarakat. Sampah kembali menumpuk dimana-mana, di Pasar Ciputat, Pasar Jombang, Pasar Sepong, Cimanggis hingga ke separator-separator jalan dan emperan jalan dibarbagai wilayah kembali dipenuhi sampah. Kalimat bernada tak puas kembali didengungkan masyarakat.
Masa kepemimpinan Djoko pun tak berjalan mulus. Ternyata, bukan hanya sopir yang mogok yang harus diselesikannya. Kasus internal diantara sejumlah bawahnnya pun mulai menguak. Saling menyalahkan mulai terjadi lantaran soal sampah semakin membuat pelik kerjaan dinas kebersihan tersebut. Kenyataan ini pun diakui Djoko sebagai masalah yang tak bisa diselesaikanya sendirian. “ Ada masalah di internal. Saya sendiri tak tahu mengapa hal itu terjadi,” elaknya saat itu, entah karena pusing masalah kian bertambah atau memang soal sampah ini selalu membawa pejabat dinas kebersihan berujung pada masalah pusingnya menangani sampah itu sendiri.
Sikap Djoko langsung menulai kritik dari pimpinan DPRD Kota Tangsel. Desakan agar ditetapkan pimpinan definitif di tubuh DKPP mulai digulirkan dewan perwakilan rakyat ini kepada Penjabat Walikota Tangsel Eutik Suarta. Tak sampai disitu, dewan pun meminta agar Eutik segera membuat rencana penbangunan TPST dan melengkapi sarana dan prasarana pengentasan masalah sampah ini.
Satu rencana pun digulirkan Komisi D DPRD Kota Tangsel. Menurut Ketua Komisi ini Iwan Rahayu, tahun depan Tangsel harus menganggarkan tak kurang dari Rp40 miliar untuk membangun TPST Cipeucang sebagai tempat pembuangan sampah resmi Kota Tangsel. Dari dana sebesar itu pun diharapkan Tangsel bisa menambah armada pengangkut sampah dan segera menunjuk pejabat definitif untuk konsentrasi menangani sampah. “Anggaran ini harus digolkan dan disahkan dalam APBD 2011 mendatang. Jangan sampai masalah sampah terus membelanggu Kota Tangsel,” tegasnya. (**)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar